Jumat, 15 Februari 2013

LATIHAN STATISTIKA



1.   Statistik dapat diartikan dalam pengertian yang sempit dan luas. Tuliskan kedua arti tersebut serta berikan contoh masing-masing?
JAWAB :
Statistik dalam arti sempit mendeskripsikan atau menggambarkan mengenai data yang disajikan dalam bentuk (1) Tabel dan diagram, (2) Pengukuran tendensi sentral (rata-rata hitung, rata-rata ukur, dan rata-rata harmonik), (3) Pengukuran penempatan (median, kuartil, desil, dan presentil), (4) Pengukuran penyimpangan (range, rentangan antar kuartil, rentangan semi antar kuartil, simpangan rata-rata, simpangan baku, variansi, koefisien variansi dan angka baku), dan (5) Angka indeks.
Contohnya : Data kelulusan di sebuah sekolah dasar
Statistik dalam arti luas adalah suatu alat untuk mengumpulkan data, mengolah data, menarik kesimpulan, membuat tidakan berdasarkan analisis data yang dikumpulkan atau statistika yang digunakan menganalisis data sampel dan hasilnya dimanfaatkan untuk generalisasi pada populasi.
Contoh : data sensus penduduk
2.      Buatlah definisi yang jelas, sesuai dengan konsepsi Anda?
JAWAB :
Statistik adalah ilmu yang mempelajari tentang seluk-beluk data, yaitu tentang pengumpulan, pengolahan/analisis, penafsiran, dan penarikan kesimpulan dari data yang berbentuk angka-angka.
3.      Jelaskan peranan statistik dalam kehidupan sehari-hari di tempat kerja Anda?
JAWAB :
Dalam kehidupan sehari-hari, statistik memiliki peranan sebagai penyedia bahan-bahan atau keterangan-keterangan berbagai hal untuk diolah dan ditafsirkan. Dengan demikian statistik dapat digunakan membantu dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Sebagai contoh, menggambarkan prestasi siswa dilihat dari jenis kelamin, penggambaran dilakukan baik dalam bentuk persentase maupun dalam bentuk histogram. Selanjutnya, dengan menggunakan statistik sebagai alat bantu dalam melakukan analisis data, dapat diketahui bagaimana prestasi siswa diramalkan dari motivasi intrinsiknya
4.      Apa perlunya kita mempelajari statistik?
JAWAB :
Dengan menggunakan statistik kita dapat dengan mudah akan mengetahui bagaimana keadaan peserta didik kita apakah pada tahun ini atau yang akan datang peserta didik kita akan mengalami peningkatan hasil belajar atau sebaliknya, bahkan kita juga dapat menganalisa apakah kita senagai guru sudah berhasil atau tidak dalam mengajar.
5.      Jelaskan perbedaan antara statistik deskriptif dengan statistik inferensial?
JAWAB :
Statistik deskriptif adalah bagian dari statistik yang mempelajari cara pengumpulan dan penyajian data sehingga mudah dipahami. Statistik deskriptif hanya berhubungan dengan hal menguraikan atau memberikan keterangan-keterangan mengenai suatu data atau keadaan atau fenomena. Dengan kata lain, statistik deskriptif hanya berfungsi menerangkan keadaan, gejala, atau persoalan.
Statistik inferensial adalah serangkaian teknik yang digunakan untuk mengkaji, menaksir dan mengambil kesimpulan sebagaian data (data sampel) yang dipilih secara acak dari seluruh data yang menjadi subyek kajian (populasi). Statistik inferensial berhubungan dengan pendugaan populasi dan pengujian hipotesis dari suatu data atau keadaan atau fenomena.
Dengan kata lain, statistik inferensial berfungsi meramalkan dan mengontrol keadaan atau kejadian.
6.      Jelaskan pembagian statistik berdasarkan parameternya?
JAWAB :
Berdasar atas bentuk parameternya (data yang sebenarnya), statistik dapat dibagi atas dua bagian.
1. Statistik parametrik
Statistik parametrik adalah bagian statistik yang parameter populasinya mengikuti suatu distribusi tertentu, seperti distribusi normal dan memiliki varians yang homogen.
2. Statistik nonparametrik
Statistik nonparametrik adalah bagian statistik yang parameter populasinya tidak mengikuti suatu distribusi tertentu atau memiliki distribusi yang bebas dari persyaratan, dan variansnya tidak perlu homogen.
7.  Syarat apakah yang harus dipenuhi oleh sekumpulan angka atau bilangan, sehingga dapat disebut dengan data Statistik?
JAWAB :
Tidak semua angka dapat disebut data statistik. Angka dapat disebut data statistik apabila dapat menunjukkan suatu ciri dari suatu penelitian yang bersifat agregatif, serta mencerminkan suatu kegiatan lapangan tertentu.
8.      Jelaskan perbedaan antara data kontinyu dan data diskrit. Berikan contoh masing-masing?
JAWAB :
Data kontinu adalah data statistik yang angka-angkanya merupakan deretan angka yang sambung-menyambung. Dengan kata lain, data kontinu ialah data yang deretan angkanya merupakan suatu kontinum
Data diskrit ialah data statistik yang tidak mungkin berbentuk pecahan.
Jadi perbedaaan yang paling mencolok adalah jika data kontinu dapat berbentuk pecahan sedangkan data diskrit tidak dapat berupa pecahan
9.      Jelaskan tentang perbedaan antara data interval dan data ordinal?
JAWAB :
Data ordinal juga sering disebut dengan data urutan, yaitu data statistik yang cara menyusun angkanya didasarkan atas urutan kedudukan (ranking).
Data interval ialah data statistik yang terdapat jarak sama di antara hal-hal yang sedang diselidiki atau dipersoalkan.
10.  Berikan contoh sedemikian rupa sehingga menjadi cukup jelas apa yang dimaksud dengan data primer dan data sekunder?
JAWAB :
Data primer adalah data statistik yang diperoleh atau bersumber dari tangan pertama (first hand data).
Contoh: data tentang prestasi belajar siswa yang diperoleh dari bagian kesiswaan.
Sedangkan data sekunder adalah data statistik yang diperoleh dari tangan kedua (second hand data).
Contoh : Data tentang jumlah siswa yang tawuran pada tahun 2006, diperoleh dari surat kabar harian Kompas.
11.  Jelaskan beberapa teknik yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data statistik?
JAWAB :
(a) pengamatan (observasi)
(b) penelusuran literatur
(c) penggunaan kuesioner
(d) wawancara (interviu).
12.  Jelaskan apa yang dimaksud dengan variabel?
JAWAB :
Variabel adalah konsep yang mempunyai bermacam-macam nilai.
13.  Apakah yang dimaksudkan dengan batas kelas dan titik tengah kelas?
JAWAB :
Batas kelas adalah nilai-nilai yang membatasi kelas yang satu dengan kelas yang lain.
Titik tengah kelas atau tanda kelas adalah angka atau nilai data yang tepat terletak di tengah suatu kelas. Titik tengah kelas merupakan nilai yang mewakili kelasnya.
14.  Apakah yang dimaksudkan dengan interval kelas?
JAWAB :
Interval kelas adalah selang yang memisahkan antara satu kelas dengan kelas yang lain.
15.  Apakah yang dimaksudkan dengan panjang kelas?
JAWAB :
panjang kelas dalam hal ini adalah jarak antara batas atas kelas dan batas bawah kelas.
16.  Jelaskan secara singkat, hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan sebuah distribusi frekuensi?
JAWAB :
Hal yang penting untuk diperhatikan dalam pembuatan distribusi frekuensi, yakni:
(1) perlu dijaga agar supaya jangan sampai ada data yang tidak dimasukkan dalam kelas,
(2) titik tengah kelas diusahakan bilangan bulat/tidak pecahan, dan
(3) dalam menentukan banyaknya kelas jangan terlalu sedikit.
17.  Uraikan langkah-langkah dalam pembuatan grafik histogram?
JAWAB :
Langkah-langkah yang dilakukan untuk membuat histogram, yakni:
(1)  membuat absis dan ordinat, berbanding seperti 10 : 7,
(2)  absis diberi nama “Nilai“ dan ordinat “Frekuensi“,
(3) membuat skala pada absis dan ordinat. Perskalaan pada absis ini tidak perlu sama dengan perskalaan pada ordinat, dan
(4)  mendirikan segiempat-segiempat pada absis.
18.  Jelaskan cara membuat grafik poligon?
JAWAB :
Cara membuat grafik polygon adalah dengan menghubung-hubungkan titik-titik tengah tiap-tiap interval kelas secara berturut-turut.
19.  Jelaskan perbedaan antara grafik histogram dengan grafik ogive?
JAWAB :

Grafik histogram
Grafik ogive
dibuat dengan mengunakan batas nyata
sedangkan grafik poligon selalu menggunakan titik tengah
berwujud segi empat-segi-empat
berwujud garis-garis atau kurve (garis-garis yang sudah dilicinkan).

20.  Jelaskan kegunaan grafik ogive?
JAWAB :
Grafik ogive digunakan, apabila ingin mengetahui “kedudukan” seseorang tentang sesuatu hal dalam kelompoknya sendiri, bukan pola sifat atau kecakapan kelompok seluruhnya. Oleh karena itu, kita akan banyak menemui hasil-hasil tes bakat, tes kemampuan khusus, dan semacamnya yang dilaporkan dalam bentuk Ogive atau grafik frekuensi meningkat.

SIKLUS BELAJAR



A.      PERKEMBANGAN SIKLUS BELAJAR
Semula siklus belajar ini dikembangkan sebgai penuntun umum dalam praktik mengajar dengan tujuan untuk mengembangkan konsep-konsep biologi tertentu dan keterampilan bernalar. Kemudian disarankan untuk mengembangkan model siklus belajar semula menjadi tiga siklus belajar.
1.      Miskonsepsi dan pola Penalaran
Dalam penelitian tentang miskonsepsi digunakan penalaran kombinasional,penalaran mengendalikan variable, penalaran probabilistic, dan penalaran korelasional secara “hipotesis-deduktif logis”. Di ajukan hipotesis bahwa para siswa yang telah memiliki pola-pola penalaran ini diharapkan mempunyai lebih sedikit miskonsepsi daripada mereka yang tidak memilikinya. Para siswa yang mempunyai penalaran yang tinggi mempunyai lebih sedikit miskonsepsi karena pola penalaran itu dibutuhkan untuk mengatasi miskonsepsi sebelumnya.

2.      Proses perubahan konseptual
Proses pembuangan atau pengghilangan miskonsepsi dan penggantiannya dengan alternative-alternatif yang lebih komplek yang berlaku ternyata melibatkan proses mental “ekuilibrasi”. Menurut teori psikologi, pola penalaran tingkat tinggi berkembang selama proses ekuilibrasi ini.pola-pola penalaran berkembang melalui proses abtraksiyang menyangkut timbulnya kesadaran dari bentuk atau pola dari yang abstraksi. Yang abstraksi adalah bentuk-bentuk argumentasi. Oleh karena itu apabila kita ingin menolong siswa untuk menjadi pemikir dan penalar yang lebih baik anjurkan mereka untuk berargumentasi dan bertindak pada ketidak tepatan argument-argumen mereka (Lawson dan Karl, 1985).

B.       PEMBELAJARAN DAN SIKLUS BELAJAR
Hipotesis pokok pembelajaran ialah penggunaan siklus belajar yang tepat memberikan kesempatan para siswa untuk memberikan konsepsi sebelumnya dan kesempatan untuk berdebat dan menguji konsepsi ini sehingga tidak hanya meberikan  kemajuan dalam pengetahuan konseptual siswa, tetapi juga meningkatkan kesadaran dan kemampuannya untuk  menggunakan pola penalaran yang terlibat dalam pembentukan dan pengujian pengetahuan konseptual itu.
Siklus Belajar terdiri atas tiga fasa, yaitu : fasa eksplorasi atau fasa penggalian konsep (Consept Exploration), fasa pengenalan konsep atau fasa penemuan konsep (Concept Introduction), dan fasa aplikasi atau penerapan konsep (Concept Application).

1. Fasa Eksplorasi atau Fasa Penggalian Konsep
Selama eksplorasi para siswa belajar melalui aksi dan reaksi mereka sendiri dalam situasi baru. Eksplorasi juga membawa para siswa pada identifikasi suatu pola keteraturan dalam fenomena yang diselidiki. Penerapannya dapat diuraikan sebagai berikut :
a.  Siswa mengidentifikasi objek-objek yang menarik, kejadian-kejadian atau situasi yang dapat diobservasi siswa-siswa. Pengalaman ini dapat terjadi dalam ruangkelas, laboratorium atau lapangan.
b.      Penyediaan waktu bagi siswa di mana mereka menggali objek-objek, kejadian-kejadian atau situasi-situasi. Selama pengalaman ini para siswa harus membuat hubungan-hubungan, pola-pola observasi, mengenali variabel-variabel, dan pertanyaan-pertanyaan kejadian atau peristiwa sebagai hasil eksplorasi mereka. Dalam fasa ini dapat digunakan untuk banyak keuntungan yang tidak diduga. Siswa berkesempatan untuk menyuarakan ide mereka, selain itu siswa mungkin mempunyai pertanyaan-pertanyaan atau pengalaman-pengalaman yang memotivasi mereka untuk memahami apa yang mereka observasi.
c.   Tujuan utama dari eksplorasi adalah untuk secara mental membuat atau menimbulkan konsep yang kemudian akan diperkenalkan.

2. Fasa Pengenalan Konsep atau Fasa Penemuan Konsep
Fasa kedua ialah pengenalan konsep, biasanya dimulai dengan memperkenalkan suatu konsep atau konsep-konsep yang ada hubungannya dengan fenomena yang diselidiki, dan didiskusikan dalam konteks apa yang telah diamati selama fasa eksplorasi. Adapun penerapan fasa pengenalan konsep dapat diuraikan sebagai berikut :
a.      Pada awal pembelajaran secara jelas didasarkan pada eksplorasi siswa. Sehingga dalam fasa ini guru menunjukkan kepada siswa agar memperhatikan aspek-aspek yang spesifik dari pengalaman eksplorasi.
b.      Berikutnya konsep-konsep diperkenalkan secara langsung dan formal.
c.  Kunci fasa ini adalah untuk menunjukkan atau memperlihatkan konsep-konsep dalam cara yang sederhana, jelas, dan langsung. Hal ini agar dapat dipahami siswa dengan mudah.

3. Fasa Penerapan Konsep atau Fasa Aplikasi Konsep
Fasa ini menyediakan kesempatan bagi para siswa untuk menggunakan konsep-konsep yang telah diperkenalkan. Adapun penerapannya dapat dilaksanakan dengan cara mengenalkan aktivitas yang berbeda di mana siswa dapat memperluas konsep-konsep dalam situasi baru atau situasi yang berbeda.
Konsep merupakan pola  istilah. Aplikasi konsep memberikan kepada para siswa berulang kali untuk mengenal pola dan untuk menemukan pola aplokasi-aplikasi dari konsep baru itu dalam konteks-konteks baru.

C.       TIGA MACAM SIKLUS BELAJAR
            Model siklusbelajar pertama kali dikembangkan oleh Robert Karplus dari Universitas California, Barkley tahun 1970-an. Karplus mengidentifikasi adanya tiga fase yang digunakan dalam model pembelajaran ini yaitu preliminary exploration, invention, dan discovery. Berkaitan dengan tiga fase dalam learning cycle, Charles Barman dan Marvin Tolman menggunakan
istilah exploration, concept introduction, dan concept application. Joseph
Abruscato menggunakan istilah exploration, concept acquisition, dan concept
application. Sedangkan Edmund Marek menggunakan istilah exploration, term introduction, dan concept application. Walaupun disebutkan dengan istilah yang berbeda, namun pada dasarnya mempunyai makna yang sama. Bahkan, model siklus belajar yang terdiri dari tiga fase tersebut selanjutnya dikembangkan dan diperinci kembali sehingga muncullah model siklus belajar lima fase (5E) yang meliputi: engagement, exploration, explanation, elaboration, dan evaluation (Dasna, 2004).
Menurut Lawson (1988), terdapat tiga macam siklus belajar, yakni deskriptif, empiris-induktif, dan hipotesis-deduktif (Dahar, 1988: 198). Ditinjau dari segi penalaran, siklus belajar deskriptif menghendaki pola-pola deskriptif, seperti seriasi, klasifikasi, dan konservasi. Siklus belajar hipotesis-deduktif menghendaki pola-pola tingkat tinggi, seperti mengendalikan variabel, penalaran korelasional, dan penalaran hipotetis-deduktif. Sedangkan siklus belajar empiris-induktif bersifat intermediet, yakni penggabungan antara pola-pola deskriptif dan tingkat tinggi.
Dalam siklus belajar deskritif, dimana para siswa menemukan dan memberikan suatu pola empiris dalam suatu konteks khusus,dan ini merupakan fase eksplorasi. Guru memberi nama pada pola  tersebut, dimana kegiatan ini termasuk fase pengenalan konsep. Selanjutnya, pola tersebut ditentukan dalam konteks-konteks lain yang merupakan fase aplikasi konsep. Bentuk siklus belajar deskriptif hanya memberikan sebatas apa yang diamati tanpa usaha untuk melahirkan hipotesis-hipotesis untuk menjelaskan hasil pengamatannya (Dahar, 1988: 199).
Dalam siklus belajar empiris-induktif, para siswa menemukan dan memberikan suatu pola empiris dalam suatu konteks khusus, yang merupakan fase eksplorasi. Selanjutnya, para siswa mengemukakan sebab-sebab terjadinya pola tersebut, sehingga diperlukan penalaran analogi untuk memindahkan atau mentransfer konsep-konsep yang telah dipelajari dalam konteks-konteks lain pada konteks baru, dan ini merupakan fase pengenalan konsep.
Dengan bimbingan guru, para siswa menganalisis data yang dikumpulkan selama fase eksplorasi untuk mengetahui apakah sebab-sebab yang dihipotesiskan sesuai dengan data dan fenomena lain yang dikenal, dan ini merupakan fase aplikasi konsep. Dengan demikian dalam siklus belajar empiris-induktif, para siswa melakukan pengamatan secara deskriptif, mengemukakan sebab dan menguji sebab-sebab tersebut (Dahar, 1988: 199).

Dalam siklus belajar hipotesis-deduktif, pembelajaran dimulai dengan suatu pertanyaan sebab,kemudian para siswa merumuskan jawaban-jawaban atau hipotesis-hipotesis yang mungkin. Selanjutnya, para siswa menurunkan konsekuensi-konsekuensi logis dari hipotesis tersebut dan merencanakan dan melakukan eksperimen-eksperimen untuk menguji hoptesis, dimana kegiatan ini termasuk fase eksplorasi. Analisis hasil eksperimen menyebabkan hipotesis ditolak atau diterima sehingga konsep-konsep dapat diperkenalkan, dan ini merupakan fase pengenalan konsep. Akhirnya,dilakukan penerapan konsep-konsep yang relevan dan pola-pola penalaran yang terlibat dan didiskusikan pada situasi-situasi lain, dimana kegiatan ini termasuk fase aplikasi konsep.

D.  LANGKAH-LANGKAH DALAM MENYUSUN DAN MENGGUNAKAN KETIGA SIKLUS BELAJAR

1.        Siklus belajar Deskriftip
a.       Guru menentukan beberapa konsep yang diturunkan secara empiris untuk diajarkan.
b.      Guru menentukan beberapa fenomena yang melibatkan pola yang mendasari konsep itu.
c.  Fase ekplorasi: para siswa menyelidiki fenomena dan mencoba menemukan dan memberikan padanya.
d.      Fase pengenalan istilah: para siswa melaporkan data yang mereka kumpulkan dan/atau memberikan pola itu; kemudian guru  memperkenalkan suatu istilah untuk pola itu.
e.      Aplikasi konsep: tambahan fenomena didiskusikan atau/dan diselidiki yang meyangkut konsep yang sama.

2.        Siklus belajar empiris-induktif
a.       Guru menentukan beberapa konsep untuk diajarkan.
b.      Guru menentukan beberapa fenomena yang melibatkan pola yang mendasari konsep itu.
c.       Fase ekplorasi: guru mengajukan pertanyaan deskriptif dan pertanyaan sebab.
d.      Para siswa mengumpulkan data untuk menjawab pertanyaan deskriptif.
e.       Data untuk menjawab pertanyaan deskriptif di perlihatkan pada papan  tulis.
f.        Pertanyaan deskriptif itu dijawab dan pertanyaan sebab diajukan.
g.  Hipotesis alternative dikemukakan untuk menjawab pertanyaan sebab dan data yang telah dikumpulkan diteliti untuk pengujian pertama hipotesis-hipotesis itu.
h.     Fase introduksi istilah: istilah dikemukakan yang berhubungan dengan   fenomena yang diselidiki dan ekp;lanasi yang dihipotesiskan yang paling mungkin.
i.        Fase aplikasi konsep. Fenomena tambahan didiskusikan atau di selidiki yang menyangkut konsep-konsep yang sama.

3.        Siklus belajar hipotesis-deduktif
a.       Guru menentukan beberapa konsep untuk diajukan.
b.      Guru menentukan beberapa fenomena yang melibatkan pola yang mendasari konsep itu.
c.    Fase ekplorasi: para siswa menyelidiki suatu fenomena yang menimbulkan pertanyaan sebab atau guru mengajukan pertanyaan sebab.
d.      Dalam diskusi kelas hipotesis diajukan dan para siswa diminta untuk bekerja dalam kelompok untuk menurunkan implikasi.
e.       Para siswa melakukan eksperimen.
f.   Fase pengenalan istilah:  data dibandingkan, di analisis, istilah- istilah di ajukan dan kesimpulan-kesimpulan di ambil.
g.  Fase aplikasi konsep: tambahan fenomena didiskusikan atau diselidiki yang menyangkut konsep-konsep yang sama.