Jumat, 15 Februari 2013

MAKALAH BELAJAR PENGETAHUAN DEKLARATIF DAN PROSEDURAL



KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah SWT, karena atas berkat limpahan rahmat dan karunianya sehingga penyusunan dan penulisan makalah ini dapat diselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya.
Tak lupa kami mengucapakan banyak terima kasih kepada dosen pengajar dan teman-teman yang telah banyak membantu proses penyelesaian makalah ini akan memberi manfaat bagi kita semua. Makalah ini kami susun dengan mengumpulkan data dan pendapat-pendapat di antara anggota kami .
Kami menyadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat kami harapkan dari teman-teman demi kesempurnaan makalah ini.

                                                                        Kendari,      Desember 2011

                                                                                      Penyusun







BAB 1 PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Tujuan utama pendidikan adalah untuk membantu siswa dalam memperoleh pengetahuan dalam berbagai domain konten. Masing-masing domain pengetahuan, seperti matematika, literature, atau sains, menyajikan suatu aspek penting dari kompetensi siswa. Proses belajar pengetahuan deklaratif dan prosedural dapat terjadi pada diri orang yang sedang belajar dan mengkaji bagaimana kedua macam pengetahuan itu diperoleh..

Pengetahuan domain, bagaimanapun, harus melekat dalam suatu konteks luas dari pengetahuan umum untuk digunakan secara fleksibel. Siswa juga perlu suatu kesatuan besar dari pengetahuan deklaratif tentang dunia untuk dapat dimengerti pengetahuan domain, dan menggeneralisasikan pengetahuan prosedural untuk menyelesaikan sebagian besar tugas.

B. Tujuan

            Adapun yang menjadi tujuan penulisan makalah “BELAJAR PENGETAHUAN DAN PROSEDURAL” ini adalah agar kita mampu menguraikan bagaimana proses belajar pengetahuan deklaratif dan prosedural terjadi pada diri orang yang sedang belajar, bagaimana kedua macam pengeahuan itu diperoleh, dan mampu mengetahui bagaimana pembelajaran seharusnya dilakukan.



BAB II
 PEMBAHASAN
BELAJAR PENGETAHUAN DEKLARATIF DAN PROSEDURAL

A.    Perolehan Pengetahuan Baru Deklaratif

1.      Tingkat Aktivitas Dalam Jaringan Proposisi
Anderson ( 1982) berpendapat bahwa proposisi mempunyai berbagai tingkatan aktivitas. Pada suatu waktu sebagian besar proposisi itu tidak aktif. Sebagian kecil proposisi yang aktif pada waktu-waktu tertentu adalah bagian yang pada waktu itu kita pikirkan. Proposisi tu ialah pengetahuan lama, bukan pengetahuan baru.
Memori kerja merupakan wadah yang di dalamnya pengetahuan baru ditambahkan pada pengetahuan lama. Jadi, satu bagian memori kerja (bagian proporsi lama) terdiri atas bagian kecil dari jaringan proporsi yang aktif itu.

2.      Beberapa Prinsip Tentang Perolehan Pengetahuan Deklaratif
Pengetahuan Deklarati baru diperoleh bila suatu proposisi baru disimpan bersama proposisi yang berhubungan dalam jaringan proposisi.
Beberapa prinsip tentang perolehan pengetahuan, yait sebagai berikut:
1)      Proposisi baru mencambuk pemanggilan pengetahuan sebelumnya melalui penyebaran aktvasi
2)      Proposisi baru dan pengetahuan sebelumnya dapat menstimulasi timbulnya proposisi-proposisi baru lainnya (proposisi ini disebut elaborasi)..
3)      Semua proposisi baru (baik yang disajikan oleh lingkungan maupun yang timbul dari diri seseorang)

3.      Pemanggilan dan kontruksi Pengetahuan deklaratif
Suatu proses pemanggilan biasanya dimulai bila seseorang bertanya pada kita atau bila kita membaca suatu pertanyaan.Bila pertanyaan itu datang dari sumber luar, pertanyaan itu harus diubah dahulu menjadi proposisi yaitu media peyajian internal. Bila hal ini telah dilakukan, konsep dalam proposisi itu akan mengaktifkan bagian dari jaringan proposisi yang berhubungan dengan konsep itu. Aktivas akan menyebar pada konsep yang lain sehingga suatu proposisi secara keseluruhan teraktivasi. Lalu proposisi tang telah teraktivasi ini diteliti untuk melihat apakah proposisi ini dapat menjawab pertanyaaan yang diajukan. Bila dapat, proposisi itu diterjemahkan ke dalam  ucapan atau jawaban tertulis dan dikeluarkan ke lingkungan. Bila proposisi itu tidak menjawab pertanyaan dan mash ada waktu untuk mencari jawaban, pencariann diteruskan dengan membiarkan aktivasi menyebar hingga proposisi lainnya teraktivasi dan diharapkan dapat memberikan jawaban. Akan tetapi, bila tidak ada waktu lagi untuk pencarian selanjutnya, orang yang bersangkutan dapat membuat penerkaan didasarkan pada pengetahuan yang tersedia.

4.      Elaborasi Pengetahuan Deklaratif
 Elaborasi ialah proses penambahan pengetahuan dengan informasi yang sedang dipelajari.  Elaborasi mempercepat pemanggilan dengan dua cara. Pertama, elaborasi menyediakan alternative cara untuk pemanggilan agar aktivasi menyebar. Kedua, elaborasi menyediakan informasi tambahan yang berguna untuk mengonstruksi jawaban yang tampak.
Elaborasi dapat mengambil beberapa bentuk, sebagian ada yang lebih efektif sebagai perangsang pemanggilan. Elaborasi yang efektif mengikat menjadi satu bagian propsisi yag ingin diingat seseorang dan menstimulasi pemanggilan apa yang dipelajari. Elaborasi yang kurang efektif tidak melakukan hal itu.
Prinsip penyebaran aktivasi memberikan penjelasan tentang mengapa elaborasi yang tepat lebih baik untuk menghafal daripada elaborasi yang tidak tepat. Elaborasi yang tepat tidak menyediakan kesempatan bagi penyebaran aktivasi untuk menjauhi informasi yang harus diingat. Hal ini tidak berarti elaborasi yang tidak tepat selalu mempunyai efek yang negatif. Selain untuk menghafal informasi,misalnya berpikir divergen, elaborasi tidak tepat dapat lebih efektif daripada elaborasi yang tepat. Belum banyak penelitian yang dilakukan tentang efek dari berbagai bentuk elaborasi terhadap situasi-situasi berpikir divergen.

5.      Organisasi Pengetahuan Deklaratif
Organisasi ialah proses pembagian himpunan informasi menjadi sub-sub himpunan. Misalnya, siswa-siawa yang baik bila diberi tugas membaca, akan melakukan elaborasi terhadap informasi yang mereka baca. Ini berarti mereka memikirkan gagasan, contoh, gambaran mental, atau perincian yang berhubungan.

Efek Organisasi terhadap menghafal
Organisasi sangat menolong pengingatan informasi. Baik informasi berupa daftar berisi kata-kata benda, cerita-cerita, teks pelajaran, maupun data menunjukkan banyak keuntungan organisasi.
Proses organisasi meningkatkan kemampuan menghafal baik bagi orang dewasa maupun anak-anak. Thorndyke (1977) melakukan penelitian yang lebih sulit dengan mahasiswa-mahasiswa.

Mekanisme Organisasi
            Organisasi menyediakan hubungan-hubungan yang ketat dengan informasi ang akan dihafal sehingga penyebaran aktivasi akan tinggal dalam daerah yang relevan pada memori jangka panjang dan tidak menjauh.
            Kemungkinan yang lain ialah organisasi dapat menolong memecahkan masalah memori kerja yang berkapasitas kecil. Kapasitas yang kecil ini menimbulkan masalah sebab sesudah memanggil sejumlah informasi, seseorang telah kehabisan ruang. Namun, penyebaran aktivasi tidak begitu selektif tentang hal yang akan disajikan dalam memori kerja; mungkin saja item yang tidak relavan dimasukkan ke dalam memori kerja seperti item yang relevan. Jadi, yang menimbulkan masalah untuk pemanggilan informasi ialah kombinasi kapasitas terbatas pada memori kerja dan sifat penyebaran aktivasi.
            Jadi, organisasi dapat mempengaruhi menghafal dengan berbagai cara. Organisasi dapat menahan penyebaran aktivasi dalam daerah memori jangka panjang yang relevan dan organisasi dapat menyediakan sumber perangsang pemanggilan untuk mencari lebih lanjut dalam memori.

6.      Pertolongan Elaborasi dan Organisasi dalam Pembelajaran
Banyak yang dapat dilakukan melalui pengajaran atau materi tambahan untuk meningkatkan penggunaan proses elaborasi dan organisasi pada para siswa. Beberapa prosedur yang dapat digunakan oleh para guru untuk merangsang elaborasi antara lain ialah meminta siswa membentuk gambaran mental, menggunakan analogi untuk materi pelajaran yang tidak dikenal siswa dan demikian abstrak sehingga tidak dapat menimbulkan gambaran mental atau meminta para siswa untuk membentuk elaborasi. Prosedur lain yang dapat memperlancar organisasi adalah meminta para siswa untuk memberikan contoh konsep-konsep baru meminta mereka untuk melengkapi suatu garis-garis besar pelajaran, atau menggunakan kata-kata untuk merangsang organisasi.
Dengan demikian, lebih baik kita memperhatikan hal yang tidak baik daripada yang baik dilakukan untuk merangsang perolehan pengetahuan deklaratif. Hal yang sudah jelas ialah tidak menyajikan materi pelajaran baru dengan cara mengurangi kebermaknaannya dan organisasi. 
B.     Belajar Pengetahuan Prosedural
Perbedaan utama antara ahli dan bukan ahli dalam suatu bidang ialah ahli mempunyai jauh lebih banyak pengetahuan prosedural tentang bidang itu. Para ahli mempunyai aturan-aturan khusus untuk memanipulasi informasi.
 Tujuan pendidikan umum ialah bukan untuk menghasilkan kampiun-kampiun catur, ahli elektronika, atau fisika, tetapi untuk menghasilkan ahli dalam keterampilan dasar. Ahli dalam keterampilan dasar, seperti ahli dalam disiplin-disiplin tertentu, adalah persoalan memiliki pengetahuan prosedural yang tepat. Jadi, penting untuk mengetahui bagaimana pengetahuan prosedural itu diperoleh dan apa yang dapat dilakukan untuk memperlancar perolehan pengetahuan ini.
Sebagai langkah pertama dalam memahami perolehan pengetahuan prosedural, penting untuk membedakan antara dua bentuk prosedur sebab proses belajar untuk masing-masing bentuk agak berbeda. Prosedur pengenalan-pola mendasari kemampuan untuk mengenal dan mengklasifikasikan pola-pola stimulus internal dan eksternal. Prosedur urutan-aksi mendasari kemampuan untuk melakukan urutan operasi terhadap simbol-simbol.
1.      Prosedur Pengenalan-Pola dan Urutan-Aksi
        Tabel 1 memperlihatkan beberapa butir tes dari berbagai bidang studi. Butir-butir di sebelah kiri meminta siswa untuk mengklasifikasi atau mengenal sesuatu (misalnya, katak).
        Penyajian pengetahuan yang mendasari tindakan terhadap butir-butir tes semacam itu disebut suatu prosedur pengenalan-pola sebab prosedur itu mencari suatu pola stimulus tertentu.
PENGENALAN-POLA
URUTAN-AKSI
1.      Yang mana yang katak ?
a.       (gambar ular)
b.      (gambar cacing)
c.       (gambar katak)
d.      (gambar bekicot)
2.      y = 3x + 5 melukiskan suatu…
a.       lingkaran
b.      garis lurus
c.       hiperbola
d.      parabola

3.      Peliharalah hewan yang kamu temukan di sawah agar tidak mati.

4.      Gunakanlah konjungsi dan pungtuasi untuk menggabungkan kalimat-kalimat berikut:  Saya suka film itu. Siti tidak suka film itu.




        Butir-butir di sebelah kanan meminta seseorang bukan hanya mengenai pola yang ditentukan oleh kondisi-kondisi, melainkan juga melakukan seurutan aksi-aksi, baik itu aksi mental maupun aksi mental dan fisik. Untuk menyelesaikan butir-butir, seseorang harus melaksanakan satu seri langkah dengan urutan yang benar. Misalnya, untuk menggabungkan dua kalimat yang berlawanan, seseorang mula-mula harus menghilangkan titik pada akhir kalimat pertama, lalu meletakkan koma antara kalimat pertama dan kalimat kedua dan akhirnya menambahkan kata “tetapi” sesudah koma. Penyajian pengetahuan yang mendasari tindakan terhadap butir-butir tes semacam ini disebut prosedur urutan-aksi sebab prosedur itu melaksanakan satu seri aksi.
2.      Perolehan Prosedur Pengenalan-pola
        Banyak pola dipelajari dari pengalaman, tanpa interaksi langsung. Suatu contoh belajar dari pengalaman ialah perolehan kosa kata pada anak-anak. Banyak kosakata terdiri atas nama-nama untuk pola-pola yang disetujui.
Bantuan Pembelajaran untuk Generalisasi
Guru dan bahan-bahan pengajaran dapat merangsang proses generalisasi dengan memilih contoh-contoh konsep yang tepat untuk disajikan. Juga, para siswa menjadi lebih tidak tergantung dalam belajar bila mereka mengetahui bagaimana mencari atau mengungkapkan macam-macam contoh yang tepat.
Pertolongan Pembelajaran untuk Diskriminasi
Dalam generalisasi, seleksi dan urutan contoh-contoh merupakan hal yang penting untuk meningkatkan kemungkinan bahwa seorang siswa akan membentuk produksi pengenalan-pola yang benar. Dalam diskriminasi, hal yang penting ialah seleksi dan urutan noncontoh.
3.      Perolehan Prosedur-prosedur Urutan-Aksi
        Belajar urutan aksi merupakan proses yang lambat dengan membuat banyak kesalahan. Menurut teori Anderson, urutan-urutan aksi dipelajari dengan cara seperti berikut. Mula-mula si pelajar menyajikan suatu urutan aksi dalam bentuk deklaratif. Lalu berkembang suatu penyajian prosedural dari urutan aksi dengan pengalaman dalam mencoba menghasilkan urutan-aksi.
        Proses perubahan dari tindakan yang dibimbing oleh pengetahuan deklaratif ke tindakan suatu urutan aksi yang dibimbing oleh pengetahuan prosedural disebut oleh Anderson sebagai kompolasi pengetahuan. Istilah ini menyarankan suatu analogi dengan computer. Kompilasi pengetahuan merupakan suatu proses pembentukan suatu penyajian untuk urutan-urutan aksi yang menuju pada tindakan yang lancar dan tepat.
        Kompulasi pengetahuan terrdiri atas dua subproses proseduralisasi dan komposisi. Proseduralisasi ialah pengguguran perangsang-perangsang dari pengetahuan deklaratif, sedangkan komposisi ialah penggabungan beberapa prosedur menjadi satu prosedur.

Proseduralisasi
Langkah pertama dalam belajar urutan aksi ialah menciptakan suatu penyajian proporsional untuk prosedur. Langkah kedua ialah menciptakan satu produksi untuk menyajikan setiap langkah dalam urutan aksi. Kedua langkah ini terjadi selama proseduralisasi.
Komposisi
Suatu proses lain dalam belajar urutan-urutan aksi disebut komposisi. Selama komposisi, beberapa produksi digabung menjadi satu. Produksi-produksi yang dihasilkan dari proseduralisasi itu kecil karena memori kerja tidak mempunyai ruangan untuk penciptaan langsung produksi-produksi besar dari pengetahuan deklaratif.
        Agar teradi komposisi suatu urutan dari dua produksi harus aktif dalam memori kerja pada waktu yang sama. Sistem akan “memperhatikan” bahwa aksi produksi pertama menimbulkan kondisi untuk produksi yang kedua. Hasilnya merupakan suatu produksi baru yang mempunyai kondisi produksi pertama dan aksi-aksi kedua produksi. Kondisi produksi kedua hilang sebagai informasi yang tidak diperlukan.

4.      Strategi Megajarkan Pengetahuan Prosedural
        Walaupun strategi mengajar untuk generalisasi, diskriminasi, prosduralisasi, dan komposisi pada umumnya memiliki perbedaan, ada pula strategi yang dapat digunakan untuk setiap macam pengetahuan prosedural. Strategi ini ialah latihan yang diikuti dengan umpan balik. Apabila prosedur ini merupakan pengenalan-pola, kesempatan untuk mengklasifikasikan contoh-contoh baru dari pola hendaknya diberikan.
        Bentuk-bentuk soal yang disajikan dan sifat umpan balik berbeda, tergantung pada proses belajar yang dilakukan. Misalnya,proseduralisasi umpan balik tentang ketepatan lebih sesuai daripada umpan balik tentang kecepatan.
        Sebaliknya, latihan dan umpan balik tidak diperlukan untuk belajar pengetahuan deklaratif. Dalam kenyataannya, bila kita menggunakan latihan dan umpan balik (dalam bentuk latihan menghafal) untuk belajar pengetahuan deklaratif, kita dapat mengingat pengetahuan itu kurang baik dibandingkan dengan bila kita “melatih” pengetahuan ini hanya sekali, tetapi mencoba memahaminya, melakukan elaborasi dan organisasi terhadap pengetahuan itu.


DAFTAR PUSTAKA
Dahar, ratna. 2006. Teori-Teori Belajar Dan Pembelajaran. Jakarta: Erlangga.
 

Artikel Terkait

1 komentar: