Sabtu, 15 Desember 2012

MAKALAH PERKEMBANGAN MASA REMAJA


BAB I
PENDAHULUAN
A.      LATAR BELAKANG
Perkembangan anak adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari pematangan. Di sini menyangkut adanya proses diferensiasi dari sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ-organ dan sistem yang berkembang sedemikian rupa per- kembangan emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya.
Aspek– aspek perkembangan individu meliputi fisik, intelektual, sosial, emosi, bahasa, moral dan agama. Perkembangan fisik meliputi pertumbuhan sebelum lahir dan pertumbuhan setelah lahir. Intelektual (kecerdasan) atau daya pikir merupakan kemampuan untuk beradaptasi secara berhasil dengan situas baru atau lingkungan pada umumnya. Sosial, setiap individu selalu berinteraksi dengan lingkungan dan selalu memerlukan manusia lainnya. Emosi merupakan perasaan tertentu yang menyertai setiap keadaan atau perilaku individu. Bahasa merupakan kemampuan untuk berkomunikasi dengan yang lain. Moralitas merupakan kemauan untuk menerima dan melakukan peraturan, nilai-nilai atau prinsip-prinsip moral. Agama merupakan kepercayaan yang dianut oleh individu.
Dalam makalah ini penulis membatasi penulisan makalah pada perkembangan anak khususnya siswa fase remaja . Karena Masa remaja merupakan segmen kehidupan yang penting dalam siklus perkembangan individu, dan merupakan masa transisi yang dapat diarahkan kepada perkembangan masa dewasa yang sehat.
Masa remaja adalah suatu periode peralihan diri dari masa kanak-kanak kepada masa dewasa. Masa remaja juga sebagai usia bermasalah. Akhirnya para remaja mengalami kesualitan dalam mengatasi masalah yang dihadapi. Kesulitan-keuslitan yang dihadapi remaja menurut Rumke bersumber dari 3 masalah
1.     Masalah individuasi : kesulitan daalam mewujudkan dirinya sebagai seorang yang dewasa.
2.      Regulasi : ketidakmampuan menyesuaikan diri dengan perubahan dibidang fisik dan seksualnya
3.     Masalah Integrasi : kesulitan menyesuaikan sikap dan perilakunya dilingkungannya / mencari identitas dirinya
B.      RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang di atas, maka kita dapat menyimpulkan beberapa rumusan masalah sebagai berikut:
1.       Apa pengertian Masa Remaja ?
2.       Aspek-aspek apa saja yang mempengaruhi perkembangan remaja ?
3.       Apa perilaku  seksual remaja ?
4.       Perilaku-perilaku menyimpang apa saja yang dapat terjadi pada masa remaja ?
C.      TUJUAN PENULISAN MAKALAH
1.      Dapat mengetahui  pengertian masa remaja
2.      Dapat mengetahui aspek-aspek perkembangan remaja
3.      Dapat mengetahui perilaku seksual remaja
4.      Dapat mengetahui perilaku menyimpang pada masa remaja






BAB II
PEMBAHASAN
A.     PENGERTIAN MASA REMAJA
Masa remaja atau yang sering dikenal dengan istilah “Adolesense” yang berarti “tumbuh” atau tumbuh menjadi dewasa. Secara psikologis, masa remaja adalah usia dimana individu berinteraksi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa dibawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada ditingkat yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak. Integritas dalam masyarakat (dewasa) mempunyai banyak aspek afaktif, kurang lebih berhubungan dengan masa puber. Termasuk juga perubahan intelektual yang mencolok. Transformasi intelektual yang khas dari cara berfikir remaja ini memungkinkan untuk mencapai integritas dalam hubungan social orang dewasa, yang kenyataannya merupakan cirri khas yang umum dari periode perkembangan ini.

            Menurut hukum di Amerika Serikat ini, individu dianggap telah dewasa apabila telah mencapai usia 18 tahun, bukan 21 tahun seperti sebelumnya. Perpanjangan masa remaja, setelah individu matang secara seksual dan sebelum diberi hak serta tanggung jawab orang tua dewasa mengakibatkan kesenjangan antara apa yang secara popular dianggap budaya remaja dan budaya dewasa. Budaya kawula muda menekankan kesegaran dan kelengahan terhadap tanggung jawab dewasa. Budaya ini memiliki hirarki sosialnya sendiri, keyakinannya sendiri, gaya penampialannya sendiri, nilai-nilai dan norma perilakunya sendiri.

B.     ASPEK-ASPEK PRKEMBANGAN REMAJA
Semua individu khususnya remaja akan mengalami perkembangan baik fisik maupun psikis yang meliputi aspek-aspek intelektual, sosial, emosi, bahasa, moral dan agama.

1.      PERKEMBANGAN FISIK
Dalam perkembangan remaja, perubahan yang tampak jelas adalah perubahan fisik. Tubuh berkembang pesat sehingga mencapai bentuk tubuh orang dewasa yang disertai dengan berkembangnya kapasitas reproduktif. Dalam perkembangan seksualitas remaja, ditandai dengan ciri-ciri seks primer dan ciri-ciri seks sekunder.
1)      Hormon – Hormon Seksual
Dalam perkembangan hormon - hormon seksual remaja, ditandai dengan cirri-ciri yaitu cirri-ciri seks rpimer dan sekunder.
a)      Ciri-Ciri Seks Primer
Pada masa remaja primer ditandai dengan sangat cepatnya pertumbuhan testis yaitu pada tahun pertama dan kedua. Kemudian tumbuh secara lebih lambat, dan mencpai ukuran matangnya pada usia 20 tahun. Lalu penis luai bertambah panjang, pembuluh mani dan kelenjar prostate semakin membesar. Matangnya organ-organ seks tersebut memungkinkan remaja pria (sekitar 14-15 tahun) mengalami “mimpi basah”.
Pada remaja wanita, kematangan orga-organ seksnya ditandai dengan tumbuhnya rahim vagina dan ovarium secara cepat pada masa sekitar 11-15 tahun untuk pertama kalinya mengalami “menarche” (menstruaasi pertama). Menstruasi awal sering disetai dengan sakit kepala, sakit punggung dan kadang-kadang kejang serta merasa lelah, depresi dan mudah tersinggung.
b)      Ciri-Ciri Seks Sekunder
Pada remaja ditandai dengan tumbuhnya rambut pubik/bulu kopak disekitar kemaluan dan ketiak, terjadi prubahan suara, tumbuh kumis dan  tumbuh gondok laki / jakun. Sedangakan pada wanita ditandai dengan tumbuh rambut pubik/ bulu kapok disekitar kemaluan dan ketiak, bertambah besar buah dada danbertambah besarnya pinggul
2)      Pubertas.
a)      perubahan eksternal

Perempuan
Laki-laki
 Tinggi
Usia 17 dan 18 tahun mencapai tinggi yang matang.
Rata-rata anak laki-laki setahun sesudahnya.
Berat
Peruahan berat badan mengikuti jadwal yang sama dengan perubahan tinggi
 proporsi        tubuh
Berbagai anggota tubuh lambat laun mencapai perbandingan tubuh yang baik.

b)      perubahan internal
Ø   Sistem Pencernaan
Perut menjadi lebih panjang dan tidak lagi terlampau berbentuk pipa, usus bertambah besar, hati bertambah berat dan kerongkongan bertambah panjang.
Ø  Sistem Peredaran Darah
Jantung tumbuh pesat selama masa remaja, pada usia 17-18 tahun beratnya 12 kali berat pada waktu lahir.
Ø  Sistem Pernapasan
Kapasitas paru-paru remaja perempuan hamper matang pada usia 17 tahun,  remaja laki-laki mencapai tingkat kematnagn beberapa tahun kemudian .
Ø  Jaringan Tubuh
Perkemngan kerangka berhenti rata-rata pada usia 18 tahun Jaringan. Selain tulang terusberkembang sampai tulang mencapai umuran matang, khususnya bagi perkembangan jaringan otot. 

2.      PERKEMBANGAN PSIKIS
1)      Aspek Intektual
Perkembangan intelektual (kognitif) pada remaja bermula pada umur 11 atau 12 tahun. Remaja tidak lagi terikat pada realitas fisik yang konkrit, remaja mulai mampu berhadapan dengan aspek-aspek yang hipotesis dan abstrak dari realitas. Bagaimana dunia ini tersusun tidak lagi dilihat sebagai satu-satunya alternatif yang mungkin terjadi, misalnya aturan-aturan dari orang tua, status remaja dalam kelompok sebayanya dan aturan-aturan yang diberlakukan padanya tidak lagi dipandang sebagai hal-hal yang mungkin berubah. Kemampuan-kemampuan berpikir yang baru ini memungkinkan individu untuk berpikir secara abstrak, hipotesis dan kontrafaktual, yang nantinya akan memberikan peluang pada individu untuk mengimajinasikan kemungkinan lain untuk segala hal.

2)      Aspek Sosial
Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial atau proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral dan tradisi. Meleburkan diri menjadi satu kesatuan dan saling berkomunikasi dan bekerja sama. Aspek ini meliputi kepercayaan akan diri sendiri, berpandangan objektif, keberanian menghadapi orang lain, dan lain-lain.
Perkembangan sosial pada masa remaja berkembang kemampuan untuk memahami orang lain sebagai individu yang unik. Baik menyangkut sifat-sifat pribadi, minat, nilai-nilai atau perasaan sehingga mendorong remaja untuk bersosialisasi lebih akrab dengan lingkungan sebaya atau lingkungan masyarakat baik melalui persahabatan atau percintaan. Pada masa ini berkembangan sikap cenderung menyerah atau mengikuti opini, pendapat, nilai, kebiasaan, kegemaran, keinginan orang lain. Ada lingkungan sosial remaja (teman sebaya) yang menampilkan sikap dan perilaku yang dapat dipertanggung jawabkan misalnya: taat beribadah, berbudi pekerti luhur, dan lain-lain. Tapi ada juga beberapa remaja yang terpengaruh perilaku tidak bertanggung jawab teman sebayanya, seperti : mencuri, free sex, narkotik, miras, dan lain-lain. Remaja diharapkan memiliki penyesuaian sosial yang tepat dalam arti kemampuan untuk mereaksi secara tepat terhadap realitas sosial, situasi dan relasi baik di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.
Berikut ini ciri-ciri penyesuaian sosial remaja, diantaranya :
Ø  Di Lingkungan Keluarga
1)      Menjalin hubungan yang baik dengan orang tua dan saudaranya
2)      Menerima otoritas orang tua (menaati peraturan orang tua)
3)      Menerima tanggung jawab dan batasan (norma) keluarga
4)      Berusaha membantu anggaran kalau sebagai individu atau kelompok
Ø  Di Lingkungan Sekolah
1)      Bersikap respek dan mentaati peraturan
2)      Berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan sekolah
3)      Menjalin persahabatan dengan teman sebaya
4)      Hormat kepada guru, pemimpin sekolah atau staf lain
5)      Berprestasi di sekolah

Ø  Di Lingkungan Masyarakat
1)      Respek terhadap hak-hak orang lain
2)      Menjalin dan memelihara hubungan dengan teman sebaya atau orang lain
3)      Bersikap simpati dan menghormati terhadap kesejahteraan orang lain
4)      Respek terhadap hukum, tradisi dan kebijakan-kebijakan masyarakat.
3)      Aspek Emosi (Afektif)
Perkembangan aspek emosi berjalan konstan, kecuali pada masa remaja awal (13-14 tahun) dan remaja tengah (15-16 tahun) pada masa remaja awal ditandai oleh rasa optimisme dan keceriaan dalam hidupnya, diselingi rasa bingung menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi dalam dirinya. Pada masa remaja tengah rasa senang datang silih berganti dengan rasa duka, kegembiraan berganti dengan kesedihan, rasa akrab bertukar dengan kerenggangan dan permusuhan. Gejolak ini berakhir pada masa remaja akhir (18– 21 tahun).
Pada masa remaja tengah anak terombang-ambing dalam sikap mendua (ambivalensi) maka pada masa remaja akhir anak telah memiliki pendirian, sikap yang relatif mapan. Mencapai kematangan emosial merupakan tugas yang sulit bagi remaja. Proses pencapaiannya sangat dipengaruhi oleh kondisi sosio-emosional lingkungannya, terutama lingkungan-lingkungan keluarga dan teman sebaya. Apabila lingkungan tersebut kondusif maka akan cenderung dapat mencapai kematangan emosional yang baik, seperti adolesensi emosi (cinta, kasih, simpati, senang menolong orang lain, hormat dan menghargai orang lain, ramah) mengendalikan emosi (tidak mudah tersinggung, tidak agresif, optimis dan dapat menghadapi situasi frustasi secara wajar). Tapi sebaliknya, jika seorang remaja kurang perhatian dan kasih sayang dari orang tua atau pengakuan dari teman sebaya, maka cenderung mengalami perasaan tertekan atau ketidaknyamanan emosional, sehingga remaja bisa berealisi agresif (melawan, keras kepala, bertengkar, berkelahi, senang mengganggu) dan melarikan diri dari kenyataan (melamun, pendiam, senang menyendiri, meminum miras dan narkoba).
4)      Aspek Bahasa
Perkembangan bahasa adalah meningkatnya kemampuan penguasaan alat berkomunikasi baik alat komunikasi lisan, tulisan, maupun menggunakan tanda-tanda dan isyarat. Bahasa remaja adalah bahasa yang telah berkembang, baik di lingkungan keluarga, masyarakat dan khususnya lingkungan teman sebaya sedikit banyak lebih membentuk pola perkembangan bahasa remaja. Pola bahasa remaja lebih diwarnai pola bahasa pergaulan yang berkembang di dalam kelompok sebaya.
Pada umumnya remaja akhir lebih memantapkan diri pada bahasa asing tertentu, menggemari literatur yang mengandung nilai-nilai filosofis, etnis dan religius. Penggunaan bahasa oleh remaja lebih sempurna serta perbendaharaan kata lebih banyak. Kemampuan menggunakan bahasa ilmiah mulai tumbuh dan mampu diajak berdialog seperti ilmuwan.
5)      Aspek Moral
Perkembangan moral pada remaja menurut teori Kohlberg menempati tingkat III: pasca konvensional stadium 5, merupakan tahap orientasi terhadap perjanjian antara remaja dengan lingkungan sosial. Ada hubungan timbal balik antara dirinya dengan lingkungan sosial dan masyarakat. Pada tahap ini remaja lebih mengenal tentang nilai-nilai moral, kejujuran, keadilan kesopanan dan kedisiplinan. Oleh karena itu moral remaja harus sesuai dengan tuntutan norma-norma sosial.
Selain itu peranan orang tua sangat penting. Dalam membantu moral remaja, orang tua harus konsisten dalam mendidik anaknya, bersikap terbuka serta dialogis, tidak otoriter atau memaksakan kehendak.
6)      Aspek Agama
Pemahaman remaja dalam beragama sudah semakin matang, kemampuan berfikir abstrak memungkinkan remaja untuk dapat mentransformasikan keyakinan beragama serta mengapresiasikan kualitas keabstrakan Tuhan.
 
C.     PERILAKU SEKSUAL REMAJA
1)      Faktor-faktor penyebab seksualitas Pada Remaja
Salah satu fenomena kehidupan remaja yang sangat menonjol adalah terjadinya peningkatan minat dan motivasi terhadap seksualitas.
Penelitian – penelitian secara biologis-phisiologis membuktikan bahwa pertumbuhan kelenjar-kelenjar seks seseorang telah sampai pada taraf matang dalam usia – usia awal remaja akhir, bahkan ada juga remaja yang mengalaminya dala 1-2 tahun sebelum akhir remaja awal. Proses produksi kelnjar-kelenjar seks (gonads) akan tetap aktif dalam masa remaja akhir ini bahkan sampai masa dewasa dan masa tua. Bagi wanita, akan berakhir produksihormon tersebut pada saat mengalami “menopause” (berhenti menstruasi).
     Gonads bukan saja berpengaruh pada penyempurnaan tubuh (khusus yang berhubungan dengan cirri-ciri seks sekunder), melainkan juga berpengaruh jauh pada kehidupan-kehidupan psikis, moral, dan social remaja. Kehidupan psikis yang mendapat pengaruh kuat adalah minat remaja terhadap lawan jenis kelamin.
     Adapun kematangan seksual sudah mulai sekitar umur 12 tahun sampai 18 tahun, akan tetapi tidak sema pada semua orang karena beberapa sebab, antarta lain karena konstitusi jasmaniah dan rohaniah dari ras (suku bangsa) adanya perbedaan iklim, cara hidup yang berbeda, milliu yang mempengaruhi.
     Terjadinya peningkatan perhatian remaja terhadap kehidupan sexual ini sangat dipengaruhi oleh faktor perubahan-perubahan fisik selama pubertas. Terutama kematangan organ-organ seksual dan perubahan-perubahan hormonal, mengakibatkan munculnya dorongan-dorongan seksual dalam diri remaja. Dorongan seksual remaja ini sangat tinggi, bahkan lebih tinggi dari dorongan seksual orang dewasa. Sebagai anak muda yang belum memiliki pengalaman tentang seksual, tidak jarang dorongan-dorongan seksual ini menimbulkan ketegangan fisik dan psikis. Kelainan dan Gangguan Seksual
     Untuk melepaskan diri dari ketegangan seksual, remaja mencoba mengekspresikan dorongan seksualnya dalam berbagai bentuk tingkah laku seksual, mulai dari melakukan aktivitas berpacaran (dating), berkencan, bercumbu, sampai dengan melakukan kontak seksual. Dari sekian banyak bentuk tingkah laku seksual yang diekspresikan remaja, slah satunya yang paling umum dilakukan adalah masturbasi. Dalam suatu investigasi yang dilakukan Haas, 1979 (dalam Santrock, 1998), ditemukan bahwa masturbasi sudah merupakan aktivitas seksual yang lumrah dikalangan remaja. Lebih dari satu per tiga remaja laki-laki dan satu setengah remaja perempuan melakukan masturbasi satu kali seminggu atau lebih. Penelitian Jones dan Barlow, 1990 (dalam Dacey & Kenny, 1997), juga menyatakan bahwa frekuensi masturbasi remaja pria lebih sering dari remaja perempuan, sebagaimana terlihat dalam tabel berikut.
Frekuensi Masturbasi
Frekuensi
Laki-laki (%)
Perempuan (%)
Setiap hari
Dua kali seminggu
Satu kali seminggu
Satu kali dua minggu
Satu kali sebulan
Lebih satu kali sebulan
Tidak pernah
0
26,5
18,4
14,3
12,2
12,2
16,3
0
4,3
10,6
4,3
8,5
25,5
46,8
SUMBER : diadaptasi dari Dacey & Kenny (1997)
     Kebanyakan ahli psikologis di Barat (misalnya Kinsey et.al, 1953; McCary, 1978) memandang masturbasi sebagai suatu bentuk ekspresi seksual remaja yang normal. Sebabtidak ada fakta yang menegaskan bahwa masturbasi merupakan aktivitas yang berbahaya. Kebanyakan dokter jiwa juga memperkirakan bahwa tidak ada bahaya intrinsic dalam masturbasi dan mempercayainya sebagai suatu yang normal, cara sehat bagi remaja untuk menyalurkan dorongan seksual mereka. Meskipun demikian, beberapa remaja yang melakukan masturbasi mempunyai perasaan malu, bersalah, dan perasaan takut kalau mereka berkembang menjadi sindrom masturbasi yang berlebihan. Dalam hal ini, masturbasi tetap dilakukan, sekalipun anak merasa sangat menyesal. Perasaan ini diperkuat oleh rasa keseian dan fantasi, yang pada gilirannya menyebabkan terjadinya depresi (Dacey & Kenny, 1997). Pendidikan Seks
     Pelajaran pendidikan seks di SMP dan SMA penting untuk memupuk konsep mengenai peran pria dan wanita yang tradisional. Pelajaran ini menekankan bahwa peran feminine berorientasi pada keluarga dan bahwa wanita lebih memperoleh kepuasan sebagai istri, ibu dan pengatur rumah tangga dari pada keberhasilan dalam dunia pengusaha atau dunia professional. Menurut Deutsch dan Gilbert, banyak remaja sebagai akibat dari teman – teman sebaya, tertarik dengan lawan jenis ditarik kearah yang berlawanan, yakni situasi mematangkan konflik.

D.     PERILAKU MENYIMPANG PADA MASA REMAJA.
Ada sejumlah perubahan pandangan dunia luar yang dapat menyebabkan konflik-konflik / penyimpangan dalam diri remaja, yaitu sebagai berikut. Sikap dunia luar terhadap remaja sering tidak konsiten. Kadang-kadang mereka dianggap sudah dewasa, tetapi mereke tidak mendapat kebebasan penuh atau peran yang wajar sebagaimana orang dewasa. Seringkali mereka masih dianggap anak kecil sehingga menimbulkan kejengkelan pada diri remaja kejengkelan yang mendalam dapat berubah menjadi tingkah laku emosional.
1.    Dunia luar atau masyarakat masih menerapkan nilai-nilai yang berbeda untuk remaja laki-laki dan perempuan. Kalu remaja laki-laki memilih banyak teman perempuan, mereka mendapat prediakt popular dan mendatangkan kebanggaan. Sebaliknya, apabila remaja putrid mempunyai banyak teman laki-laki sering dianggap tidak baik atau bahkan mendapat predikat yang kurang baik. Penerapan nilai yang berbeda semacam ini jika tidak disertai dengan pemberian pengertian secara bijaksana dapat menyebabkan remaja bertingkah laku emosional.
2.    Seringkali kekosongan remaja dimanfaatkan oleh pihak luar yang tidak bertanggung jawab, yaitu dengan cara melibatkna remaja tersebut kedalam kegiatan-kegiatan yang merusak dirinya dan melanggar nilai-nilai moral. Misalnya, penyalahgunaan obat terlarang, minum minuman keras, serta tindak criminal dan kekerasan. Perlakuan dunia luar semacam ini akan sangat merugikan perkembangan emosional remaja.

     Ada beberapa bentuk berprilaku menyimpang yang dilakukan oleh remaja, diantaranya
1.    Pesta malam yang menimbulkan sisi negative remaja
2.    minum- minuman keras
3.    obat-obat terlarang, banyak remaja yang mencoba obat-obatan terlarang karena “HARUS DICOBA”, meskipun beberapa saat kemudian menjadi kecanduan.





BAB III
PENUTUP
1.      KESIMPULAN
Ø  Masa remaja adalah suatu periode peralihan diri dari masa kanak-kanak kepada masa dewasa.
Ø  Semua individu khususnya remaja akan mengalami perkembangan baik fisik maupun psikis yang meliputi aspek-aspek intelektual, sosial, emosi, bahasa, moral dan agama.
Ø  Terjadinya peningkatan perhatian remaja terhadap kehidupan sexual ini sangat dipengaruhi oleh faktor perubahan-perubahan fisik selama pubertas. Terutama kematangan organ-organ seksual dan perubahan-perubahan hormonal, mengakibatkan munculnya dorongan-dorongan seksual dalam diri remaja.
Ø  Ada beberapa bentuk berprilaku menyimpang yang dilakukan oleh remaja, diantaranya
·         Pesta malam yang menimbulkan sisi negative remaja
·         minum- minuman keras
·         obat-obat terlarang,
2.      SARAN
Dalam perkembangan remaja merupakan salah satu perjalanan yang bisa mempengaruhi dalam kehidupannya, oleh sebab itu butuh arahan serta didikan agar bisa melewati masa-masa transisi itu dengan baik dalam fisik maupun psikis sehingga bisa mengatasi dan mengaplikasikan perubahan-perubahan itu dalam kehidupan sehari-hari.

DAFTAR PUSTAKA
Ali, Muhammad. 2005. Psikologi Remaja.Bandung : Bumi Aksara.
Daulay, Agus Salim 2010. Diktat Psikologi Perkembangan. Padangsidimpuan: STAIN Padangsidimpaun.
Desmita. 2005. Psikologi Perkembangan. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Hurlock, Elizabeth B. 1980. Psikologi Perkembangan. Jakarta : Erlangga.
Mappiare. 1984. Psikologi Orang Dewasa. Surabaya : Usaha Nasional.
http://amriawan.blogspot.com/2010/07/pentingnya-pendidikan-karakter-di-usia.html
http://belajarpsikologi.com/perkembangan-fisik-anak-usia-dini/
http://cahayamuslimah.com/blog/prinsip-prinsip-perkembangan-anak/
http://ruangpsikologi.com/perkembangan-moral-anak/


Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar