Rabu, 07 November 2012

Teori Belajar Operant Conditioning



Skinner (dalam Slavin 1994), seperti halnya Thorndike memusatkan pada hubungan antara tingkah laku dan konsekwensinya. Misalnya jika tingkah laku seseorang diikuti oleh konsekwensi yang menyenangkan maka orang itu akan mengulangi tingkah laku itu sesering mungkin. Penggunaan konsekwensi yang menyenangkan (ganjaran) dan yang tidak menyenangkan (hukuman) untuk mengubah tingkah laku dinamakan Operant Conditioning. Jadi konsekwensi digunakan untuk mengontrol terjadinya tingkah laku. Konsekwensi adalah kondisi yang mengikuti tingkah laku dan mempengaruhi frekuensi tingkah laku yang akan datang. Sanjaya (2006) mengemukakan pendapat Skinner bahwa untuk membentuk tingkah laku tertentu perlu diurutkan atau dipecah-pecah menjadi bagian-bagian atau komponen-komponen tingkah laku yang spesifik. Selanjutnya setiap tingkah laku yang dilakukan dengan baik diberi penguatan supaya tingkah laku itu terus diulang-ulang dan agar termotivasi untuk mencapai tingkah laku puncak yang diharapkan. Sebagai ilustrasi, misalnya kita ingin membentuk kebiasaan agar anak suka membaca buku. Agar terbentuk kebiasaan itu, maka perilaku membaca dapat dipecah menjadi beberapa bagian :
a. Melihat-lihat sampul buku.
b. Membuka-buka buku.
c. Memperhatikan gambar-gambar yang ada.
d. Membaca isi buku.

Setiap bagian perilaku yang telah direspon dengan baik oleh anak diberi hadiah (penguatan) yang dapat menimbulkan rasa senang. Akibatnya anak akan terus mengulang perilaku tersebut dan melanjutkan pada bagian perilaku selanjutnya. Sanjaya (2006) mengemukakan bahwa teori Operant Conditioning dari Skinner ini sangat besar pengaruhnya dalam teknologi pengajaran. Pendekatan baru dalam pengajaran seperti pengajaran berprograma, pengajaran dengan bantuan komputer, mengajar dengan menggunakan mesin, pengajaran modul semuanya dikembangkan dari teori Skinner.
 
Prinsip-Prinsip Pengubahan Tingkah Laku dari Operant Conditioning 
Skinner (Slavin, 1994, Eggen dan Kauchak, 1997) menyatakan bahwa perubahan tingkah laku tergantung pada konsekuensinya yang segera. Konsekuensi yang menyenangkan menguatkan tingkah laku, sedangkan konsekuensi yang tidak menyenangkan melemahkan tingkah laku itu. Contohnya, jika siswa senang membaca buku mereka akan membaca buku lebih sering lagi. Sebaliknya, jika ia menemui cerita yang membosankan atau tak bisa memusatkan perhatian, ia akan membaca kurang sering dan akan memilih kegiatan lain sebagai gantinya. Konsekuensi yang menyenangkan biasanya dinamakan penguatan, sedangkan konsekuensi yang tidak menyenangkan dinamakan hukuman. 
 
1. Penguatan
Penguatan didefinisikan sebagai segala konsekuensi yang memperkuat yaitu meningkatkan frekuensi tingkah laku. Efektifitas penguatan harus didemonstrasikan/ ditunjukkan. Kita tidak bisa mengatakan suatu penguatan tertentu sebagai penguatan sebelum kita punya bukti bahwa penguatan itu menguatkan tingkah laku seseorang. Misalnya gula-gula mungkin dianggap penguatan bagi anak-anak, tetapi setelah anak makan kenyang gula-gula tidak disukai lagi. Bahkan anak-anak tertentu tak suka gula-gula. Ini menunjukkan bahwa tak ada ganjaran yang dapat menjadi penguat bagi setiap orang dalam semua kondisi. Jenis-jenis penguatan yang dikemukakan (Slavin, 1994 dan Eggen dan Kauchak, 1997) meliputi: 

a. Penguatan utama dan penguatan sekunder
Penguatan utama memberi kepuasan pada kebutuhan fisik manusia, seperti : makanan, air, keamanan, kehangatan dan seks. Penguatan Sekunder adalah penguatan yang menghendaki nilai dengan mengasosiasikan kepada penguatan utama atau penguatan sekunder.yang mapan lainnya. Misalnya: uang tak punya nilai pada anak kecil sampai anak itu belajar bahwa uang itu bisa digunakan untuk membeli sesuatu yang sifatnya utama atau sekunder. Angka adalah kecil sekali nilainya pada siswa sampai orangtuanya mengingatkannya dan menghargainya, dan hadiah orang tua adalah bernilai karena dikaitkan dengan cinta, kehangatan, keselamatan dan penguatan lainnya. Uang dan angka adalah contoh penguatan sekunder karena tidak punya nilai kecuali dikaitkan dengan penguatan utama atau penguatan sekunder yang telah mapan. Ada tiga kategori dasar penguatan sekunder : (1) penguatan sosial seperti hadiah, senyum, pelukan, perhatian (2) penguatan kegiatan seperti: kesempatan memainkan permainan, game atau kegiatan menyenangkan, dan (3) token atau penguatan simbolis seperti : uang, angka, bintang, atau koin yang dapat ditukar dengan penguatan lainnya. 

b. Penguatan Positif dan Negatif
Penguatan yang paling sering digunakan disekitar kita adalah barang yang diberikan pada siswa. Ini dinamakan penguatan positif karena dapat memperkuat tingkah laku yang meliputi hadiah, angka dan bintang. Namun cara lain untuk menguatkan tingkah laku adalah menghilangkan konsekuensi tingkah laku yang tidak menyenangkan atau menjauhkan sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi. Contoh: orang tua membebaskan anaknya mencuci piring jika ia menyelesaikan PR nya. Jika mencuci piring dilihat sebagai tugas yang tak menyenangkan, membebaskan ia dari mencuci piring akan menjadi penguatan. Penguatan yang menghilangkan situasi yang tak menyenangkan dinamakan penguatan yang negatif. Istilah ini sering disalahtafsirkan sebagai hukuman. Untuk menghindari salah tafsir ini perlu diingat bahwa penguatan baik positif maupun negatif memperkuat tingkah laku sedangkan hukuman melemahkan tingkah laku.

c. Prinsip Premack
David Premack (Eggen dan Kauchak, 1997, Slavin, 1994) mengemukakan satu jenis penguatan lagi yaitu prinsip Premack atau dinamakan juga “aturan nenek”. Penguatan ini menyatakan bahwa makin sering atau makin disukai suatu kegiatan bisa digunakan sebagai penguatan untuk kegiatan yang kurang sering atau kurang disukai. Contoh nenek berkata: “Pertama kamu makan sayurmu setelah itu kamu baru boleh makan kuemu”. Cucu si nenek ini suka makan kue dan kurang suka makan sayur. Agar cucu ini mau makan sayur digunakan kue sebagai penguatan. Sejenis dengan penguatan Premack ini adalah penguatan yang ditunda. Contoh: jika kamu dapat menyelesaikan 10 soal matematika ini dengan benar, kamu baru boleh main komputer.

2. Hukuman
Hukuman menurut Skinner (Eggen dan Kauchak, 1997) adalah konsekuensi yang menghasilkan berkurangnya tingkah laku. Atau seperti yang dikemukakan oleh Slavin (1994) hukuman adalah konsekuensi yang tidak memberi penguatan tetapi melemahkan tingkah laku. Hukuman ditujukan untuk mengurangi tingkah laku dengan menjatuhkan konsekuensi yang tidak diinginkan. Hukuman meliputi 3 (tiga) bentuk, yaitu:

a. Hukuman Presentasi
Yaitu penggunaan konsekuensi yang tidak menyenangkan atau rangsangan yang tidak disukai seperti siswa disuruh menulis “saya tidak akan menganggu kelas” 100/ kali atau cacian atau tamparan.

b. Hukuman Penghapusan
Yaitu menghapus penguatan. Contoh: siswa dihukum dengan tidak boleh istirahat, berdiri di depan kelas, atau dihilangkan hak-haknya. 

c. Time Out
Bentuk lain dari hukuman adalah „time out yaitu menghukum siswa yang tingkah lakunya melanggar tata tertib kelas dengan menyuruh berdiri di sudut kelas, dengan tujuan agar tingkah laku nakal itu dapat hilang atau agar siswa lain terhindar dari tingkah lakunya yang nakal.
Penelitian menunjukkan bahwa dalam beberapa kasus penggunaan hukuman dapat memperbaiki tingkah laku. Contohnya, beberapa siswa biasa keluar kelas tanpa ijin. Guru menghukumnya dengan memberi tambahan lima menit ditunda kepulangannya setelah sekolah usai. Hasilnya mereka tidak berani lagi keluar kelas tanpa ijin. Tapi perlu diingat bahwa dalam memberi hukuman harus dirasakan sebagai nestapa, jika tidak maka itu bukan hukuman lagi. Contoh: siswa yang suka mengganggu teman duduknya dihukum dengan disuruh keluar kelas. Di luar kelas, siswa malah senang bisa makan bakso di kantin atau malah pulang ke rumah. Penerapan di Kelas Eggen atau Kauchak (1997) mengemukakan penerapan Operant Conditioning di kelas sebagai berikut:
1. Jika anda menerapkan paham Operant Conditioning di kelas, gunakan penguatan jangan hukuman. Jika terpaksa menggunakan hukuman, gunakan hukuman penghapusan, jangan menggunakan hukuman presentasi. Contoh: setelah memberi tugas, guru kelas satu SD berkeliling ruangan dan memberi tiket kepada siswa yang mengerjakan soal dengan tenang. Tiket itu dapat digunakan untuk main game dan belajar di Pusat Sumber Belajar. Awalnya guru memberi hadiah siswa yang tekun, tetapi selanjutnya guru menghendaki siswa dapat bekerja lebih lama lagi.
2. Hati-hati memilih penguatan. Contoh :
a. Guru SMP kelas satu bertanya kepada siswanya suka diberi hadiah apa. Sebelumnya, mereka menyarankan minta nonton video atau minta waktu bebas. Kali ini mereka minta agar lingkungan kelasnya ditata dengan baik.
b. Guru Matematika ingin meningkatkan potensi siswanya dengan memberi penguatan berupa bonus nilai. Setelah ditetapkan grade merata kelas, guru memberi tambahan point bagi siswa yang prestasinya diatas rata-rata kelas.

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar