Rabu, 07 November 2012

TEORI BELAJAR KONEKSIONISME



1. TEORI BELAJAR KONEKSIONISME

Sekitar tahun 1913 Thorndike (Slavin, 1994, Elliott, dkk, 2000) mengemukakan bahwa cara belajar pada hewan dan manusia pada dasarnya berlangsung menurut prinsip-prinsip yang sama. Belajar dapat terjadi kalau ada stimulus. Karena itu teori belajar ini disebut teori stimulus dan respon (S-R). Dalam pembelajaran di sekolah teori ini banyak digunakan. Guru mengajukan pertanyaan (S), Siswa menjawab pertanyaan guru (R). Guru memberi PR (S), siswa mengerjakannya (R), Dengan demikian belajar adalah upaya untuk membentuk hubungan stimulus dan respon sebanyak-banyaknya, sehingga paham ini disebut paham koneksionism. Dalam teori belajar koneksionisme dikemukakan hukum-hukum sebagai berikut (Slavin, dkk 1994 dan Elliott, dkk. 200) :

a.       Hukum Kesiapan (Law of Readiness)
Menurut hukum kesiapan, hubungan antara stimulus dan respon mudah terbentuk kalau ada kesiapan pada diri seseorang. Siswa akan mudah mempelajari perkalian kalau ia telah menguasai penjumlahan. Anak usia satu tahun akan mudah belajar berjalan kalau otot-otot kakinya telah kuat untuk menahan berat badannya. Secara rinsi hukum kesiapan itu meliputi :
1.      Jika seseorang telah siap merespon atau bertindak, maka tindakan atau respon yang dilakukan akan memberi kepuasan, dan akan mengakibatkan orang tersebut tidak melakukan tindakan-tindakan lain.
2.      Jika seseorang memiliki kesiapan untuk merespon, tetapi kemudian tidak dilakukan, maka hal itu dapat mengakibatkan ketidakpuasan, dan akibatnya orang tersebut akan melakukan tindakan-tindakan lain.
3.      Jika seseorang belum mempunyai kesiapan merespon, maka respon yang diberikan akan mengakibatkan ketidakpuasan.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keberhasilan belajar seseorang sangat bergantung pada ada tidaknya kesiapan.

b.      Hukum Latihan (Law of Exercise)
Hukum latihan ini menyatakan bahwa hubungan antara stimulus dan respon akan menjadi lebih kuat karena latihan. Hubungan antara stimulus dan respon itu menjadi lemah karena latihan tidak diteruskan atau dihentikan. Implikasi hukum ini adalah makin sering suatu pelajaran diulang, maka pelajaran itu akan semakin dikuasai. Kalau pelajaran itu tidak pernah diulang-ulang maka pelajaran itu akan dilupakan.

c.       Hukum Akibat (Law of Effect)
Hukum ini menyatakan bahwa suatu tindakan yang diikuti oleh akibat yang menyenangkan akan cenderung diulang-ulang, sebaliknya kalau tindakan itu diikuti oleh akibat yang tidak menyenangkan maka tindakan itu cenderung kurang diulangi lagi. Implikasi dari hukum ini adalah apabila mengharapkan agar siswa mau mengulangi respon yang sama, maka siswa itu harus diusahakan agar merasa senang, misalnya dengan cara memberi hadiah atau pujian. Sebaliknya, apabila kita menghendaki agar siswa tidak mengulangi respon yang tidak baik, maka ia harus diberi sesuatu yang tidak menyenangkan, misalnya siswa itu diberi hukuman

d.      Transfer Latihan (Transfer of Training)
Menurut Thorndike apa yang pernah dipelajari anak sekarang harus dapat digunakan untuk hal-hal lain di masa yang akan datang. Implikasinya bagi pembelajaran adalah bahwa apa yang dipelajari siswa di sekolah harus berguna dan dapat digunakan untuk kehidupan sehari-hari. Contoh, siswa di sekolah belajar membaca, maka keterampilan membaca yang telah dikuasainya itu harus dapat digunakan di luar sekolah. Walaupun di sekolah tidak diajarkan cara membaca petunjuk pemakaian obat, tetapi dengan keterampilan membaca yang diperoleh selama bersekolah, ia bisa membaca petunjuk pemakaian obat, membaca surat kabar, majalah, dan lain sebagainya. Beberapa tahun lamanya, Thorndike (Elliott, dkk. 2000) mempunyai pengaruh yang besar dalam praktek pendidikan karena jasanya dalam meletakkan landasan ilmiah bagi pendidikan. Misalnya, penjelasan tetang transfer belajar masih sangat berarti. Belajar dapat diterapkan terhadap situasi baru hanya jika ada elemen-elemen yang sama dalam kedua situasi misalnya materi belajar yang sama. Thorndike juga berkeyakinan bahwa pengajaran yang baik dimulai dengan mengetahui apa yang anda ingin ajarkan (rangsangan). Anda juga harus mengidentifikasi respon-respon yang ingin anda hubungkan terhadap rangsangan dan saatnya kepuasan yang tepat. Thorndike mengatakan hal ini sebagai berikut : pertimbangkan lingkungan murid, pertimbangkan respon yang ingin anda hubungkan, dan buatlah hubungan itu menyenangkan. Karya Thorndike tentang low of effect merupakan statmen awal dari konsep penguatan positif yang disebar luaskan oleh Skinner. Penerapan di Kelas Eggen dan Kauchak (1997) mengingatkan untuk memperhatikan baik-baik bentuk belajar fakta yang ditugaskan pada siswa. Beri pengulangan sesering mungkin dan beri drill (latihan) untuk memperkuat hubungan antar fakta itu.
Contoh: Guru SD mengambil waktu beberapa menit setiap pagi unuk mengulang fakta-fakta perkalian yang sulit melalui drill sederhana dan kegiatan latihan, Guru sejarah ingin siswa-siswanya mengingat beberapa tanggal dan tahun yang penting. Ia mengidentifikasi tanggal dan tahun itu dan menuliskannya pada suatu hand-out dan menyuruh siswanya menguasainya. Ia mengulang-ulang materi itu secara periodik sebelum ia memberi tes.

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar