Rabu, 06 Juni 2012

Model Pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS)



A.   Pengertian Model Two Stay Two Stray
Salah satu model pembelajaran kooperatif adalah model TSTS. “Dua tinggal dua tamu” yang dikembangkan oleh Spencer Kagan 1992 dan biasa digunakan bersama dengan model Kepala Bernomor (Numbered Heads). Struktur TSTS yaitu salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang memberikan kesempatan kepada kelompok membagikan hasil dan informasi kepada kelompok lain. Hal ini dilakukan karena banyak kegiatan belajar mengajar yang diwarnai dengan kegiatan-kegiatan individu. Siswa bekerja sendiri dan tidak diperbolehkan melihat pekerjaan siswa yang lain. Padahal dalam kenyataan hidup di luar sekolah, kehidupan dan kerja manusia saling bergantung satu sama lainnya.

B. Ciri-Ciri Model Pembelajaran Two Stay Two Stray
Ciri-ciri model pembelajaran TSTS, yaitu:
1.    Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.
2.    Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
3.    Bila mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang berbeda.
4.    Penghargaan lebih berorientasi pada kelompok dari pada individu
C. Langkah-Langkah Pemebelajaran Two Stay Two Stray
1.    Siswa bekerja sama dalam kelompok yang berjumlah 4 (empat) orang.
2.    Setelah selesai, dua orang dari masing-masing menjadi tamu kedua kelompok yang lain.
3.    Dua orang yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan informasi ke tamu mereka.
4.    Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri dan melaporkan temuan mereka dari kelompok lain.
5.    Kelompok mencocokkan dan membahas hasil kerja mereka.
6.    Kesimpulan..

D. Tahapan Dalam Model Pembelajaran Two Stay Two Stray
Pembelajaran kooperatif model TSTS terdiri dari beberapa tahapan sebagai berikut.
1. Persiapan
Pada tahap persiapan ini, hal yang dilakukan guru adalah membuat silabus dan sistem penilaian, desain pembelajaran, menyiapkan tugas siswa dan membagi siswa menjadi beberapa kelompok dengan masing-masing anggota 4 siswa dan setiap anggota kelompok harus heterogen berdasarkan prestasi akademik siswa dan suku.
2. Presentasi Guru
Pada tahap ini guru menyampaikan indikator pembelajaran, mengenal dan menjelaskan materi sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah dibuat.
3. Kegiatan Kelompok
Pada kegiatan ini pembelajaran menggunakan lembar kegiatan yang berisi tugas-tugas yang harus dipelajari oleh tiap-tiap siswa dalam satu kelompok. Setelah menerima lembar kegiatan yang berisi permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan konsep materi dan klasifikasinya, siswa mempela-jarinya dalam kelompok kecil (4 siswa) yaitu mendiskusikan masalah tersebut bersama-sama anggota kelompoknya. Masing-masing kelompok menyelesai-kan atau memecahkan masalah yang diberikan dengan cara mereka sendiri. Kemudian 2 dari 4 anggota dari masing-masing kelompok meninggalkan kelompoknya dan bertamu ke kelompok yang lain, sementara 2 anggota yang tinggal dalam kelompok bertugas menyampaikan hasil kerja dan informasi mereka ke tamu. Setelah memperoleh informasi dari 2 anggota yang tinggal, tamu mohon diri dan kembali ke kelompok masing-masing dan melaporkan temuannya serta mancocokkan dan membahas hasil-hasil kerja mereka.
5.    Formalisasi
Setelah belajar dalam kelompok dan menyelesaikan permasalahan yang diberikan salah satu kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya untuk dikomunikasikan atau didiskusikan dengan kelompok lainnya. Kemudian guru membahas dan mengarahkan siswa ke bentuk formal.
6. Evaluasi Kelompok dan Penghargaan
Pada tahap evaluasi ini untuk mengetahui seberapa besar kemampuan siswa dalam memahami materi yang telah diperoleh dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif model TSTS. Masing-masing siswa diberi kuis yang berisi pertanyaan-pertanyaan dari hasil pembelajaran dengan model TSTS, yang selanjutnya dilanjutkan dengan pemberian penghargaan kepada kelompok yang mendapatkan skor rata-rata tertinggi. 

E. Kelebihan Dan Kelemahan Model Pembelajaran Two Stay Two Stray
Adapun kelebihan dari model TSTS adalah sebagai berikut.
1.    Dapat diterapkan pada semua kelas/tingkatan
2.    Kecenderungan belajar siswa menjadi lebih bermakna
3.    Lebih berorientasi pada keaktifan.
4.    Diharapkan siswa akan berani mengungkapkan pendapatnya
5.    Menambah kekompakan dan rasa percaya diri siswa.
6.    Kemampuan berbicara siswa dapat ditingkatkan.
7.    Membantu meningkatkan minat dan prestasi belajar
Sedangkan kekurangan dari model TSTS adalah:
1.    Membutuhkan waktu yang lama
2.    Siswa cenderung tidak mau belajar dalam kelompok
3.    Bagi guru, membutuhkan banyak persiapan (materi, dana dan tenaga)
4.    Guru cenderung kesulitan dalam pengelolaan kelas.

Artikel Terkait

1 komentar:

  1. terimakasih mas, maaf, klo ada, saya minta referensinya ya, saya sedang menyusun skripsi tentang itu,

    BalasHapus